Senin, 13 Desember 2021

It's a my girl

 Alhamdulillah hari ini hari pertama kalinya tau jenis kelamin setelah bulan kemarin malu buat liatin. Ga berhenti bersyukur dikasih amanah yang paling berharga. Ada bayi didalam perutku it's amazing ! 

Saat pertama kalinya mendengar detak jantung mu dalam rahim ku pun saat itu terharu ingin rasanya menangis, benarkah ada kamu didalam perutku.



Termasuk suami, yang cuek-cuek tapi gabisa menunjukan bahagia nya.

Setiap bulan kami melihatnya lewat alat usg, hal yang menyenangkan melihatmu. Kami berdua sangat menyayangimu sungguh ! 

Kata orang cinta itu buta, ku rasa benar. Aku mencintainya sebelum bertemu, saat pertama kali 2 garis di test pack kami sudah mencintaimu, bagaimana pun kamu.

Haii hari ini kamu benar2 bisa melihat wajah mungil mu, kamu mirip siapa ya? 

Sehat sehat diperutku yaaa, kita berjuang bersama. Keluar pada waktunya di rahimu dengan normal dan mudah. Kita harus kerja sama yaaa. Dan bisa berkumpul bertiga lalu kami menjadi orangtuamu.

Tak sabar kita akan menghabiskan waktu bertiga !

Kami menyayangimu, sehat terus dalam perutku ! Aku juga akan sehat dan memberikan yang terbaik untukmu.

Teruntuk anakku kamu mengemaskan !

Tendangan mu yang kadang membuatku tidak bisa tidur hingga larut malam, tapi ku menikmatinya. Aku senang kmu bergerak !

Ini foto mu, wah kami sangat menunggumu di dunia kami.




Selasa, 29 Desember 2020

🌻

 Hari ini adalah hari pertama orang yang paling saya sayangi mewujudkan impian nya. Setelah memikirkan berulang kali dengan penuh ragu dan yakin.

 Saya meyakinkan agar ia mengikuti mimpi nya, dengan berat hati, air mata saya tiba-tiba tak terbendung, menyesakan di dada saya, beberapa kali saya menarik nafas panjang saya, entah apa yang terjadi pada diri saya, hati saya, fikiran saya. Karna, 2 hari sebelum saya tau, hati saya takut, entah apa yang saya takutkan. Saya bertanya-tanya pada diri saya, apa yang saya takutkan, saya berbicara padamu bahwa saya takut. Dan saya tidak tau alasan saya. Setelah kemarin kamu mengatakan nya, mungkin ini jawaban dari ketakutan saya. Benar, hati saya tiba-tiba sangat sedih, air mata saya tidak bisa saya bendung, bukan hal baru bagi saya.

Sebelum nya saya pernah ketakutan, saya menangis didepan kamu, mengetahui bahwa kamu akan pindah dan bekerja ke wisma. Entah apa yang difikiran saya, saya ingin menangis sekencang-kencang nya, namun lagi-lagi saya menahan nya dan terasa menyesakan dada saya.

Kemarin, hari ini masih sama fikiran saya, hati saya tidak karuan. Beberapa kali saya mencoba menenangkan hati saya, mengambil wudhu, berdoa, agar hari saya tidak saya letakan pada manusia. Tapi rasanya air mata saya semakin tak terbendung tibatiba saja membasahi pipi. Sebegitu sedih nya kah saya jauh dari kamu. Saya hanya tidak ingin kejadian lalu yang saya alami terjadi lagi, sungguh ini sangat menyakiti hati saya. 

Saya memilihmu, karena saya tidak ingin ada jarak yang membuat kita berjauhan, saya tidak mau percaya saya dikecewakan, saya sangat benci dengan jarak, beberapa kali saya tetap memilih kamu, karna kamu bisa saya liat setiap hari, bisa saya sentuh, bisa saya liat senyum nya, hari hari saya saat ini lebih dari cukup untuk membuat hari saya indah, tanpa ada jarak yang harus kita salahkan. Menyenangkan bukan?

Tapi, kadang sesuatu mengambil saat masih terasa indah, merelakan agar iabahagia mendapatkan apa yang di inginkan, dan lagi-lagi mendo'akan menjadi satu-satu nya cara paling tulus.

Pagi ini, air mata membasahi pipi saya, terasa sesak dan beberapa kali menghirup nafas panjang. Ketakutan akan masalalu membuat saya menjadi trauma akan hal ini, hari hari saya membuat otak saya bekerja lebih banyak. Karena kamu tidak akan tau dan merasakan betapa trauma nya saya, jadi mungkin kamu tidak mengerti apa yang saya rasakan kemarin dan hari ini. Saya sangat sedih, membiasakan diri saya seperti sebelum nya.

Mimpi buruk kemarin, perlahan menjawab apa yang terjadi hari ini. Saya tidak bisa mengatakan apa yang saya rasakan saat ini, saya hanya bisa menulis dengan tangisan saya, dengan betapa sakit dan sedihnya saya kamu tidak akan tau.

Hari lamaran kita, pernikahan kita, ternyata pekerjaan baru yang lebih dulu datang nya.

Saya pasrah, entah saya hanya diberi kebaikan, keridhoan, dan kelancaran apapun.

Saya mudah menangis, saya akan menjadi lebih tegar.

Bebrapa bulan kemarin saya diuji dengan beberapa orang yang ingin kerumah melamar saya, saya memilih kamu.

Saat materi datang padamu, kamu diuji sebelum menikah. Tapi kamu memilih materi dahulu, bukan pernikahan kita. Padahal kamu selalu meyakin kan saya bahwa rezeky menikah pasti banyak jalan nya.

Saat ini saya tidak melihat kamu memilih perkataan yang sebelum nya meyakinkan saya.

Terimakasih atas pilihanmu.


Dari saya orang yang pernah pernah percaya dikecewakan,  dan selalu benci akan jarak.


Jarak membuat hal hal kecil mungkin terjadi akan ada masuk seseorang ketiga, saya tidak percaya termasuk kamu akan setia, sebelum kamu selalu membuktikan bahwa saya satu wanita yang kamu cinta.






Senin, 17 Februari 2020

19:02 PM - 17022020

Tulisan ini mewakilkan bahwa sulitnya saya berterus terang
Karena bagaimanapun, saya tak bisa menahan air mata saya berbicara ini. Saat inipun air mata saya tak bisa saya hentikan, mengalir begitu saja tiap memikirkan bahwa kenyataan nya saya bukan prioritasmu. Kata-kata yang membuat saya diam, entah apa yang terjadi pada saya, saya menangis sungguh terasa sesak.
Dengan semua yang telah terjadi antara kita, saya selalu sabar, ketika kita terjadi pertengakaran berkali-kali, saya selalu jadi orang pertama yang minta maaf, walau kenyataannya salahmu yang tidak mengerti saya tapi kamu merasa biasa dan mendiamkan saya beberapa hari tanpa sebab. Saya selalu ingin kita bersama, sungguh saya ingin bersamamu.
Namun, untuk masalah ini. Saya tidak memulai meminta maaf dengan rangkaian kata sangat panjang, saya tidak lagi menelponmu berulang, menulis pesan banyak, hanya sebuah kata maaf. Kali ini TIDAK. Saya sadar, saya bukan prioritas, dengan segala kesibukanmu disana, saya tidak tau. Saya hanya ingin berkabar denganmu, mencoba ingin kamu mendengarkan seharian ini saya lelah, tapi yang ku baca pesan bahwa "priotitasmu dirumah, banyak kegiatan".
Benar, dari saat itu saya sadar, saya tidak penting, saya bukan tujuanmu, saya merasa, saya pengganggu hidupmu. Maaf bila kamu sibuk. Saya hanya minta waktumu sebentar saja membalas pesan cepat. Apa kita sering menelpon berjam-jam? Mengirim pesan setiap saat? Kurasa ini cukup bebas untukmu.
Saya mencoba tidak menuntut apapun, tapi apakah saya tidak boleh meminta waktumu sebentar?
Saya hanya bisa menulis, karna kamu tau, saya tak ingin menangis di hadapanmu lagi. Saya sangat lemah, saya cengeng, saya mencoba diam padahal sangat ingin marah.
Kali ini, saya mungkin akan lebih banyak diam, sampai kamu menghargai arti saya dihidupmu. Jika penting saya akan tetap tinggal.
Saya sering bertanya-tanya, apakah kamu malu dekat dengan saya? Apakah kamu malu mengenalkan pada teman dekatmu? Apalagi keluargamu?
Kamu selalu menyembunyikan saya, menghapus pesan saya, foto saya, menguploadnya lalu ingin segera dihapus.
Apakah ada hati yang kamu jaga?

Saya sangat serius dengamu, saya mengenalkanmu pada orangtua saya, tapi saya merasa kamu tidak begitu, kamu menyembunyikan segala tentang saya dihidupmu. Kamu lebih mementingkan orang lain, kamu tak menepati janjimu padahal sampai saat ini saya tunggu, sebenar benarnya bukti sayang adalah membuktikan dengan nyata. Tapi saya tidak melihat kamu serius dengan saya.
Katanya bukti keseirusan lakilaki adalah berbicara pada orangtuanya sendiri dan orangtua yang dicintainya, setidaknya mengenalkannya, tapi itu saya belum. Saya benar-benar kebingungan. Padahal kita sudah dewasa.

Saya sering merasa, memang benar bukan prioritas. Dihari penting saya kamu tidak melalukan hal penting, sekedar mengucapkan saja rasanya tidak. Membawa tangan kosong, tanpa ucapan doa ataupun selamat.
Terlalu berharap padamu semakin menyakitkan. Maka kucoba tersenyum setiap kali bertemu.
Tapi, semenjak pesan terakhirmu sepertinya saya tidak akan banyak tersenyum.
Hari inipun saya tidak ingin melihatmu, saya takut airmata saya tak bisa dibendung.
Seperti merasakan kembali patah hati, apakah saya terlalu cepat membuka hati, untukmu yang tidak mengerti dan menghargai hadirku.
Hargagailah saya, untuk sampai detik ini saya berjuang sangat keras menyembuhkan luka, kamu jangan melukai saya, saya mohon.

Hari ini beberapa kali kita berpapasan saat kerja, tapi entah hati saya tidak ingin melihatmu, rasanya masih sesak.

Selasa, 19 November 2019

19:19

Dua bulan kemarin mungkin tanggal ini, malam itu masih saja ku ingat bagaimana kamu ingin aku menjadi kita.
Rasanya, waktu terasa lebih cepat saat bersamamu.
Kadang, aku benci pada diriku sendiri yang selalu ingin menuntut mu selalu bersamaku, membalas pesanku dengan cepat, atau memaksamu berjanji tetap bersamaku.
Maaf aku egois, pemarah, menyebalkan, mood ku mudah berubah. Mungkin memang benar kata mamah, aku harus menemukan orang penyabar jadi pendamping hidup.
Ku rasa kamu orang yang tepat.
Bagaimana tidak, kamu selalu terlihat sabar dan aku suka.
Melihat dirimu, seperti melihat sebagian diriku dalam dirimu. Ada hal yang sama. Merasa bercermin.
Semakin menyayangi mu semakin membuatku takut.
Padahal Allah sudah mengatur segalanya.
Tadi malam, pertanyaan mu "kalo ternyata ga jadi sama aku gimana?". Aku diam rasanya ingin ku tak ingin balas pesanmu.
Entah apa yang terjadi pada diriku, terasa sesak dan ingin menghela nafas panjang. Mengapa aku begitu sakit?
Rasanya aku ingin kembali ke masa, aku dan kamu biasa saja, tak dekat.
Untuk apa sejauh ini jika fikiranmu masih bertanya itu?
Bukankah sama saja seperti kamu ingin pergi?
Di umur sekarang bagiku sudah bukan main-main lagi, dari awal pun ku kira kamu akan serius. Ternyata aku harus menunggu mu 2 tahun, bukan kah menunggu adalah hal yang menyebalkan?
Saat inipun aku merasa kecewa pada harapanku sendiri. Semakin hari semakin tak ingin kehilanganmu, berfikir kita berpisah pun tak pernah terlintas. Aku ingin kamu sampai kita tua .
Ingin aku menghentikan semuanya disini, tanggal semula yang kufikir akan menjadi tanggal istimewa setiap bulannya.
Hati aku masih saja tak karuan, fikiranku pun entah bagaimana. Aku benci diriku sendiri, aku benci pada harapanku sendiri.
Ismatullah, kamu sering bilang kamu serius, gak pernah kamu sesayang ini sama perempuan lain selain aku, kata katamu, bicara mu selalu membuat aku yakin bahwa kamulah orangnya.
Tapi, kenapa di titik-titik tertentu kamu malah membuat ku ragu kembali, seolah kamu ingin pergi, dan jika kita tak bersama itu adalah kejadian yg harusnya terjadi.
Namun, bukankah jodoh itu takdir? Takdir bisa di ubah jika kita perjuangkan. Jodoh itu seberapa kita yakin.
Aku kadang merasa lelah, aku ingin langsung saja ke titik akhir, dimana semuanya bahagia.
Menunggu, mencari  dan berjuang adalah melelahkan. Apakah kamu belum lelah ismatullah?
Ku ingin menutup mataku tertidur berharap esok pagi aku terbangun dan lupa rasa sakit dari kecewa, sepertinya dulu aku pernah melakukan nya dan berhasil.
Aku belum pernah menyayangi seperti ini, setulus ini.
Aku sayang, sayang sekali. Jangan pergi ku mohon tetap bersamaku.

Minggu, 27 Oktober 2019

Baby🦀

Nanti, ada hari dimana ngerasa bodoamat sama seseorang. Bukan gapeduli, tapi ada sesuatu yang ganggu hati dan fikiran, rasa kecewa atau mungkin yang lainnya. Rasanya cuma pengen curhat sama Allah terus tiba-tiba nangis. Entah apa yang ditangisin, udah berusaha buat nahan diri, tapi hati gabisa bohong. Mau marah, bukan orang yang pemarah. Cuma bisa diem sampe semuanya baik-baik aja dan baikan lagi. Saat ini mungkin semuanya  terlihat manis, tapi kadang pahit datang. Apa jadi orang bodoamat menyenangkan? Mungkin nanti ku coba untuk beberapa hal. Nanti, pas baca ini, harusnya sadar ada beberapa orang di muka bumi ini yang peduli dan sayang padamu, salah satunya saya. Jangan merasa dirimu baik-baik saja tanpa orang lain, ada saat kamu ingin mengeluh selain sama Allah, bercerita pada seseorang yang buat hatimu merasa lebih baik, harimu merasa semangat dan saat melihat senyumnya semuanya terasa akan baik-baik aja.
Malam ini mungkin bersama temanmu menyenangkan, lupa waktu, lupa pulang dan lupa ada yang menunggumu. Dan akan tersadar saat semua temanmu pergi, semua terasa sepi. Saat itu mungkin kamu kan mengingat seseorang, atau mungkin kamu rindu ingin menemuinya. Mengirim pesan untuknya namun tak ada jawaban. Hingga pagi, yang kau temukan tak ada jawaban, atau mungkin hanya dibaca saja. Itu sudah terjawab menunggu tidaklah menyenangkan, dan menghilang bukanlah hal yang menarik.
Suatu hari otakmu yang pelupa itu, yang menurutmu egois itu akan berfikir bahwa butuh seorang teman yang akan menemani mu sampai menua. Kamu akan mencarinya, saat temanmu sudah menemukan seseorang dalam hidupnya. Saat Kamu merasa belum saatnya, tapi ku fikir ini sudah saatnya. Melangkah lebih jauh sepertinya menyenangkan, tapi sepertinya langkahmu belum siap. Saat kamu ada kufikir semua akan terjadi. Namun yang kutemukan kamu masih ingin bermain saat aku lelah untuk itu. Kutanyakan apakah akan seperti ini? Jawaban mu membingungkan kadang kau ingin segera namun kamu ragu kembali. Apa ku lanjutkan langkah yang tak tau arah dan tujuan ini? Ataukah berhenti sampai kamu lelah mencari?