Tidak terasa usia kita telah menginjak dewasa, kamu masih ingat saat kita masih berusia belasan tahun, saat kita untuk pertama kalinya merasa dekat. Saat dimana jarak memisahkan tapi kita tetap setia.
Masa itu mengajarkan saya bahwa menunggu itu memang melelahkan. Kabarmu yang hilang lalu kembali datang, tanpa pamit dan hadir dengan kata "bisakah kita mengulang kembali". Kata yang tidak asing bagi saya, beberapa kali kamu menghilang lalu datang, saya selalu menerima mu kembali dengan rasa yang sama dan mungkin takan pernah berubah.
Dan, entah kapan kamu akan kembali lagi. Saya benci kamu pergi, dan kamu pun begitu.
Masih ingat saat dimana kita berusaha tegar dengan apa yang akan terjadi? Perpisahan yang tak kita inginkan, perpisahan yang masih ingin saya ketahui jawabannya. Entah apa alasannya, kamu berat untuk pergi merelakan rasa kita.
23 September 2015, masih ingat di benak saya, kita harus meraih mimpi kita, lalu berpisah. Saya benci hari itu.
Hari-hari saya bahkan kamu terasa lebih indah saat kita bersama kembali. Tiba-tiba dengan yang bagiku tak asing lagi kamu pergi, saya kira kamu Takan pernah pergi lagi di hidup saya. Pergi dengan alasan yang tak kamu sampaikan, tak seperti sebelumnya.
Kamu tahu? Berhari, berminggu, bahkan bertahun saya menunggu kamu, berharap kamu datang lagi seperti biasanya. Sampai saat ini kamu masih ada di benak saya, bagaimana kabarmu disana, apa kamu telah menikah?
Kamu tahu? Saya belum menikah, saya ingin sekali segera menikah.
Apa kamu sedang bersama dengan wanita yang kamu cintai? Kamu tahu? Entah kenapa kamu selalu hidup di hati saya, tak pernah ada sedikit pun benci, kamu seseorang yang selalu saya ingin ku temui, saya tunggu, saya rindukan.
Entah bagaimana denganmu, perpisahan yang masih penuh tanda tanya, apa yang terjadi setelah kita menjalani hidup masing-masing.
Kamu selalu ada di fikiran saya.
Kamu ingat bulan ini? Agustus 2011 hari dimana kamu dan saya menjadi kita. Dengan jarak yang sangat tidak kita inginkan.
Sampai saat ini saya harap kita bisa bertemu, kamu selalu menjadi alasan saya untuk menulis.
Kamu percaya takdir bisa di ubah ?
A*