Hari berlalu Sangat lambat tanpa kamu, dan waktu terasa sangat cepat saat kamu ada bersamaku. Satu hari kita pernah berbicara masa depan, kamu mengutarakan apa yang ada di benakmu, walaupun aku tau ternyata aku salah menilaimu, tapi aku hanya diam dan tersenyum. Tak sedikit pun aku terlihat kecewa. Ku fikir usia kita yang sudah tak lagi untuk mengalami fase-fase seperti pacaran, aku kira saat kamu memutuskan memilih ku, ya saat itu pula kamu yakin untuk memutuskan hidup bersama selamanya, ke arah lebih pasti dan jelas.
Tapi sepertinya, peryataan mu membuatku diam dan berfikir, apakah ku akhiri saja?
Karna bagaimanapun, aku ingin menikah. Aku ingin kamu. Mungkin kamu ingin tau alasannya, yang jelas saat aku memutuskan menerima mu dalam hidupku maka saat itu pula aku ingin kamu tetap bersama sampai tua nanti.
Maaf, aku tidak bisa membaca fikiranmu, terkadang peryataan mu membuatku ragu, dan berfikir apakah kamu inginkan ku dihidupmu?
Karna seperti yang kamu katakan sedia kala, melepaskan seseorang tanpa kamu merasakan sakit hati ditinggalkan. Kamu terlalu sombong untuk mengatakan nya, kamu belum pernah rasanya saat ingin bertahan namun semuanya Takan mungkin. Bukan menyalakan takdir, tapi terkadang kita hanya butuh waktu untuk menerima semua keadaan.
Yang kamu perlu tau, saat saya telah dimiliki seseorang, saat itu juga saya akan tetap menjadi miliknya, tak mencari pemilik yang lain, Karna 1 untuk selamanya itu sangatlah berharga.
Untuk masa depan yang menjadi misteri, apakah mungkin kamu bertahan dengan segala jarak antara kita. Mampukah kita bersama hingga tua?
Atau mampu kah kita bertahan saat kita tau semuanya terasa semakin rumit.
Tak pernah tau nanti bagaimana, yang ku tau saat ini aku ingin kan kamu tetap di hidupku.
Haruskah kita tetap seperti ini? Apakah kamu berfikir untuk menikah dengan saya? Entah !