Selasa, 19 November 2019

19:19

Dua bulan kemarin mungkin tanggal ini, malam itu masih saja ku ingat bagaimana kamu ingin aku menjadi kita.
Rasanya, waktu terasa lebih cepat saat bersamamu.
Kadang, aku benci pada diriku sendiri yang selalu ingin menuntut mu selalu bersamaku, membalas pesanku dengan cepat, atau memaksamu berjanji tetap bersamaku.
Maaf aku egois, pemarah, menyebalkan, mood ku mudah berubah. Mungkin memang benar kata mamah, aku harus menemukan orang penyabar jadi pendamping hidup.
Ku rasa kamu orang yang tepat.
Bagaimana tidak, kamu selalu terlihat sabar dan aku suka.
Melihat dirimu, seperti melihat sebagian diriku dalam dirimu. Ada hal yang sama. Merasa bercermin.
Semakin menyayangi mu semakin membuatku takut.
Padahal Allah sudah mengatur segalanya.
Tadi malam, pertanyaan mu "kalo ternyata ga jadi sama aku gimana?". Aku diam rasanya ingin ku tak ingin balas pesanmu.
Entah apa yang terjadi pada diriku, terasa sesak dan ingin menghela nafas panjang. Mengapa aku begitu sakit?
Rasanya aku ingin kembali ke masa, aku dan kamu biasa saja, tak dekat.
Untuk apa sejauh ini jika fikiranmu masih bertanya itu?
Bukankah sama saja seperti kamu ingin pergi?
Di umur sekarang bagiku sudah bukan main-main lagi, dari awal pun ku kira kamu akan serius. Ternyata aku harus menunggu mu 2 tahun, bukan kah menunggu adalah hal yang menyebalkan?
Saat inipun aku merasa kecewa pada harapanku sendiri. Semakin hari semakin tak ingin kehilanganmu, berfikir kita berpisah pun tak pernah terlintas. Aku ingin kamu sampai kita tua .
Ingin aku menghentikan semuanya disini, tanggal semula yang kufikir akan menjadi tanggal istimewa setiap bulannya.
Hati aku masih saja tak karuan, fikiranku pun entah bagaimana. Aku benci diriku sendiri, aku benci pada harapanku sendiri.
Ismatullah, kamu sering bilang kamu serius, gak pernah kamu sesayang ini sama perempuan lain selain aku, kata katamu, bicara mu selalu membuat aku yakin bahwa kamulah orangnya.
Tapi, kenapa di titik-titik tertentu kamu malah membuat ku ragu kembali, seolah kamu ingin pergi, dan jika kita tak bersama itu adalah kejadian yg harusnya terjadi.
Namun, bukankah jodoh itu takdir? Takdir bisa di ubah jika kita perjuangkan. Jodoh itu seberapa kita yakin.
Aku kadang merasa lelah, aku ingin langsung saja ke titik akhir, dimana semuanya bahagia.
Menunggu, mencari  dan berjuang adalah melelahkan. Apakah kamu belum lelah ismatullah?
Ku ingin menutup mataku tertidur berharap esok pagi aku terbangun dan lupa rasa sakit dari kecewa, sepertinya dulu aku pernah melakukan nya dan berhasil.
Aku belum pernah menyayangi seperti ini, setulus ini.
Aku sayang, sayang sekali. Jangan pergi ku mohon tetap bersamaku.