Selasa, 29 Desember 2020

🌻

 Hari ini adalah hari pertama orang yang paling saya sayangi mewujudkan impian nya. Setelah memikirkan berulang kali dengan penuh ragu dan yakin.

 Saya meyakinkan agar ia mengikuti mimpi nya, dengan berat hati, air mata saya tiba-tiba tak terbendung, menyesakan di dada saya, beberapa kali saya menarik nafas panjang saya, entah apa yang terjadi pada diri saya, hati saya, fikiran saya. Karna, 2 hari sebelum saya tau, hati saya takut, entah apa yang saya takutkan. Saya bertanya-tanya pada diri saya, apa yang saya takutkan, saya berbicara padamu bahwa saya takut. Dan saya tidak tau alasan saya. Setelah kemarin kamu mengatakan nya, mungkin ini jawaban dari ketakutan saya. Benar, hati saya tiba-tiba sangat sedih, air mata saya tidak bisa saya bendung, bukan hal baru bagi saya.

Sebelum nya saya pernah ketakutan, saya menangis didepan kamu, mengetahui bahwa kamu akan pindah dan bekerja ke wisma. Entah apa yang difikiran saya, saya ingin menangis sekencang-kencang nya, namun lagi-lagi saya menahan nya dan terasa menyesakan dada saya.

Kemarin, hari ini masih sama fikiran saya, hati saya tidak karuan. Beberapa kali saya mencoba menenangkan hati saya, mengambil wudhu, berdoa, agar hari saya tidak saya letakan pada manusia. Tapi rasanya air mata saya semakin tak terbendung tibatiba saja membasahi pipi. Sebegitu sedih nya kah saya jauh dari kamu. Saya hanya tidak ingin kejadian lalu yang saya alami terjadi lagi, sungguh ini sangat menyakiti hati saya. 

Saya memilihmu, karena saya tidak ingin ada jarak yang membuat kita berjauhan, saya tidak mau percaya saya dikecewakan, saya sangat benci dengan jarak, beberapa kali saya tetap memilih kamu, karna kamu bisa saya liat setiap hari, bisa saya sentuh, bisa saya liat senyum nya, hari hari saya saat ini lebih dari cukup untuk membuat hari saya indah, tanpa ada jarak yang harus kita salahkan. Menyenangkan bukan?

Tapi, kadang sesuatu mengambil saat masih terasa indah, merelakan agar iabahagia mendapatkan apa yang di inginkan, dan lagi-lagi mendo'akan menjadi satu-satu nya cara paling tulus.

Pagi ini, air mata membasahi pipi saya, terasa sesak dan beberapa kali menghirup nafas panjang. Ketakutan akan masalalu membuat saya menjadi trauma akan hal ini, hari hari saya membuat otak saya bekerja lebih banyak. Karena kamu tidak akan tau dan merasakan betapa trauma nya saya, jadi mungkin kamu tidak mengerti apa yang saya rasakan kemarin dan hari ini. Saya sangat sedih, membiasakan diri saya seperti sebelum nya.

Mimpi buruk kemarin, perlahan menjawab apa yang terjadi hari ini. Saya tidak bisa mengatakan apa yang saya rasakan saat ini, saya hanya bisa menulis dengan tangisan saya, dengan betapa sakit dan sedihnya saya kamu tidak akan tau.

Hari lamaran kita, pernikahan kita, ternyata pekerjaan baru yang lebih dulu datang nya.

Saya pasrah, entah saya hanya diberi kebaikan, keridhoan, dan kelancaran apapun.

Saya mudah menangis, saya akan menjadi lebih tegar.

Bebrapa bulan kemarin saya diuji dengan beberapa orang yang ingin kerumah melamar saya, saya memilih kamu.

Saat materi datang padamu, kamu diuji sebelum menikah. Tapi kamu memilih materi dahulu, bukan pernikahan kita. Padahal kamu selalu meyakin kan saya bahwa rezeky menikah pasti banyak jalan nya.

Saat ini saya tidak melihat kamu memilih perkataan yang sebelum nya meyakinkan saya.

Terimakasih atas pilihanmu.


Dari saya orang yang pernah pernah percaya dikecewakan,  dan selalu benci akan jarak.


Jarak membuat hal hal kecil mungkin terjadi akan ada masuk seseorang ketiga, saya tidak percaya termasuk kamu akan setia, sebelum kamu selalu membuktikan bahwa saya satu wanita yang kamu cinta.






Senin, 17 Februari 2020

19:02 PM - 17022020

Tulisan ini mewakilkan bahwa sulitnya saya berterus terang
Karena bagaimanapun, saya tak bisa menahan air mata saya berbicara ini. Saat inipun air mata saya tak bisa saya hentikan, mengalir begitu saja tiap memikirkan bahwa kenyataan nya saya bukan prioritasmu. Kata-kata yang membuat saya diam, entah apa yang terjadi pada saya, saya menangis sungguh terasa sesak.
Dengan semua yang telah terjadi antara kita, saya selalu sabar, ketika kita terjadi pertengakaran berkali-kali, saya selalu jadi orang pertama yang minta maaf, walau kenyataannya salahmu yang tidak mengerti saya tapi kamu merasa biasa dan mendiamkan saya beberapa hari tanpa sebab. Saya selalu ingin kita bersama, sungguh saya ingin bersamamu.
Namun, untuk masalah ini. Saya tidak memulai meminta maaf dengan rangkaian kata sangat panjang, saya tidak lagi menelponmu berulang, menulis pesan banyak, hanya sebuah kata maaf. Kali ini TIDAK. Saya sadar, saya bukan prioritas, dengan segala kesibukanmu disana, saya tidak tau. Saya hanya ingin berkabar denganmu, mencoba ingin kamu mendengarkan seharian ini saya lelah, tapi yang ku baca pesan bahwa "priotitasmu dirumah, banyak kegiatan".
Benar, dari saat itu saya sadar, saya tidak penting, saya bukan tujuanmu, saya merasa, saya pengganggu hidupmu. Maaf bila kamu sibuk. Saya hanya minta waktumu sebentar saja membalas pesan cepat. Apa kita sering menelpon berjam-jam? Mengirim pesan setiap saat? Kurasa ini cukup bebas untukmu.
Saya mencoba tidak menuntut apapun, tapi apakah saya tidak boleh meminta waktumu sebentar?
Saya hanya bisa menulis, karna kamu tau, saya tak ingin menangis di hadapanmu lagi. Saya sangat lemah, saya cengeng, saya mencoba diam padahal sangat ingin marah.
Kali ini, saya mungkin akan lebih banyak diam, sampai kamu menghargai arti saya dihidupmu. Jika penting saya akan tetap tinggal.
Saya sering bertanya-tanya, apakah kamu malu dekat dengan saya? Apakah kamu malu mengenalkan pada teman dekatmu? Apalagi keluargamu?
Kamu selalu menyembunyikan saya, menghapus pesan saya, foto saya, menguploadnya lalu ingin segera dihapus.
Apakah ada hati yang kamu jaga?

Saya sangat serius dengamu, saya mengenalkanmu pada orangtua saya, tapi saya merasa kamu tidak begitu, kamu menyembunyikan segala tentang saya dihidupmu. Kamu lebih mementingkan orang lain, kamu tak menepati janjimu padahal sampai saat ini saya tunggu, sebenar benarnya bukti sayang adalah membuktikan dengan nyata. Tapi saya tidak melihat kamu serius dengan saya.
Katanya bukti keseirusan lakilaki adalah berbicara pada orangtuanya sendiri dan orangtua yang dicintainya, setidaknya mengenalkannya, tapi itu saya belum. Saya benar-benar kebingungan. Padahal kita sudah dewasa.

Saya sering merasa, memang benar bukan prioritas. Dihari penting saya kamu tidak melalukan hal penting, sekedar mengucapkan saja rasanya tidak. Membawa tangan kosong, tanpa ucapan doa ataupun selamat.
Terlalu berharap padamu semakin menyakitkan. Maka kucoba tersenyum setiap kali bertemu.
Tapi, semenjak pesan terakhirmu sepertinya saya tidak akan banyak tersenyum.
Hari inipun saya tidak ingin melihatmu, saya takut airmata saya tak bisa dibendung.
Seperti merasakan kembali patah hati, apakah saya terlalu cepat membuka hati, untukmu yang tidak mengerti dan menghargai hadirku.
Hargagailah saya, untuk sampai detik ini saya berjuang sangat keras menyembuhkan luka, kamu jangan melukai saya, saya mohon.

Hari ini beberapa kali kita berpapasan saat kerja, tapi entah hati saya tidak ingin melihatmu, rasanya masih sesak.