Tulisan ini mewakilkan bahwa sulitnya saya berterus terang
Karena bagaimanapun, saya tak bisa menahan air mata saya berbicara ini. Saat inipun air mata saya tak bisa saya hentikan, mengalir begitu saja tiap memikirkan bahwa kenyataan nya saya bukan prioritasmu. Kata-kata yang membuat saya diam, entah apa yang terjadi pada saya, saya menangis sungguh terasa sesak.
Dengan semua yang telah terjadi antara kita, saya selalu sabar, ketika kita terjadi pertengakaran berkali-kali, saya selalu jadi orang pertama yang minta maaf, walau kenyataannya salahmu yang tidak mengerti saya tapi kamu merasa biasa dan mendiamkan saya beberapa hari tanpa sebab. Saya selalu ingin kita bersama, sungguh saya ingin bersamamu.
Namun, untuk masalah ini. Saya tidak memulai meminta maaf dengan rangkaian kata sangat panjang, saya tidak lagi menelponmu berulang, menulis pesan banyak, hanya sebuah kata maaf. Kali ini TIDAK. Saya sadar, saya bukan prioritas, dengan segala kesibukanmu disana, saya tidak tau. Saya hanya ingin berkabar denganmu, mencoba ingin kamu mendengarkan seharian ini saya lelah, tapi yang ku baca pesan bahwa "priotitasmu dirumah, banyak kegiatan".
Benar, dari saat itu saya sadar, saya tidak penting, saya bukan tujuanmu, saya merasa, saya pengganggu hidupmu. Maaf bila kamu sibuk. Saya hanya minta waktumu sebentar saja membalas pesan cepat. Apa kita sering menelpon berjam-jam? Mengirim pesan setiap saat? Kurasa ini cukup bebas untukmu.
Saya mencoba tidak menuntut apapun, tapi apakah saya tidak boleh meminta waktumu sebentar?
Saya hanya bisa menulis, karna kamu tau, saya tak ingin menangis di hadapanmu lagi. Saya sangat lemah, saya cengeng, saya mencoba diam padahal sangat ingin marah.
Kali ini, saya mungkin akan lebih banyak diam, sampai kamu menghargai arti saya dihidupmu. Jika penting saya akan tetap tinggal.
Saya sering bertanya-tanya, apakah kamu malu dekat dengan saya? Apakah kamu malu mengenalkan pada teman dekatmu? Apalagi keluargamu?
Kamu selalu menyembunyikan saya, menghapus pesan saya, foto saya, menguploadnya lalu ingin segera dihapus.
Apakah ada hati yang kamu jaga?
Saya sangat serius dengamu, saya mengenalkanmu pada orangtua saya, tapi saya merasa kamu tidak begitu, kamu menyembunyikan segala tentang saya dihidupmu. Kamu lebih mementingkan orang lain, kamu tak menepati janjimu padahal sampai saat ini saya tunggu, sebenar benarnya bukti sayang adalah membuktikan dengan nyata. Tapi saya tidak melihat kamu serius dengan saya.
Katanya bukti keseirusan lakilaki adalah berbicara pada orangtuanya sendiri dan orangtua yang dicintainya, setidaknya mengenalkannya, tapi itu saya belum. Saya benar-benar kebingungan. Padahal kita sudah dewasa.
Saya sering merasa, memang benar bukan prioritas. Dihari penting saya kamu tidak melalukan hal penting, sekedar mengucapkan saja rasanya tidak. Membawa tangan kosong, tanpa ucapan doa ataupun selamat.
Terlalu berharap padamu semakin menyakitkan. Maka kucoba tersenyum setiap kali bertemu.
Tapi, semenjak pesan terakhirmu sepertinya saya tidak akan banyak tersenyum.
Hari inipun saya tidak ingin melihatmu, saya takut airmata saya tak bisa dibendung.
Seperti merasakan kembali patah hati, apakah saya terlalu cepat membuka hati, untukmu yang tidak mengerti dan menghargai hadirku.
Hargagailah saya, untuk sampai detik ini saya berjuang sangat keras menyembuhkan luka, kamu jangan melukai saya, saya mohon.
Hari ini beberapa kali kita berpapasan saat kerja, tapi entah hati saya tidak ingin melihatmu, rasanya masih sesak.